Bagi anda yang pernah menonton Children of Heaven karya sutradara Majid Majidi, maka yang langsung terlintas adalah tentang sepasang sepatu yang digunakan secara bergantian oleh kakak beradik Ali dan Zahra. Film yang berasal dari negeri Imam Khomeini, Iran ini begitu menyentuh perasaan siapa saja yang menontonnya. Kecuali bagi orang yang hatinya terbuat dari batu.
Kisah di dalam film ini bukan fiksi. Kisah di dalam film ini juga ada di sekitar kita. Di tengah masyarakat kita. Atau mungkin di lingkungan keluarga dan kerabat kita sendiri.
Di tengah gencarnya teknologi informasi dan modernisasi dalam segala hal, nun di sekitar kita kisah sepatu Ali dan Zahra adalah realita. Sepatu untuk beberapa kalangan menjadi simbol prestise. Harganya, bentuknya, merknya, dimana belinya menjadi sebuah simbol "siapa diri kita sebenarnya".
Meski, toh, sama-sama digunakan untuk melindungi kaki dari panas, debu dan mungkin saja "kotoran", sepatu tetap memiliki cita rasa kemewahan tersendiri, seperti halnya baju, celana, tas dan peralatan teknologi.
Tapi tidak bagi Siti Nabila, Diah Nurseha, Wahyu, Melati dan anak-anak lain di pinggiran sejarah modernisasi. Mereka menganggap sepatu sebagai sebuah kewajiban yang harus dimiliki agar dapat pergi ke sekolah. Sama seperti kisah Ali dan Zahra. Sepatu yang hanya sepasang ini, harus mereka pelihara semaksimal mungkin agar bentuknya tetap mirip sepatu agar guru sekolah tidak mengeluarkan mereka karena dianggap tidak menggunakan sepatu.
Berbeda mungkin halnya dengan anak-anak kita dari kalangan yang dianggap mampu. Sepatu kita belikan kapan mereka mau. Kalau perlu dibeli dengan berbagai bentuk dan mode tergantung situasi dan kondisi acaranya. Kalau untuk sekolah yang berwarna hitam, untuk olah raga yang lain lagi, apalagi acara pesta dan piknik. Dan kalau sedikit saja sobek di bagian tertentu maka kita akan memasukkannya ke keranjang sampah, karena anak kita malu untuk memakainya.Tapi tidak bagi Siti Nabila, Diah Nurseha, Wahyu, Melati dan anak-anak lain di pinggiran sejarah modernisasi. Sepatu bagi mereka tetap harus dipertahankan sampai titik bentuk penghabisan. Karena, kalau tidak, mereka harus menunggu satu tahun berikutnya, menunggu jatah pembagian dari BOS pemerintah. Atau menunggu bapaknya berhasil membuat 10 anyaman bakul, itupun mengganggu stabilitas jatah makan sekeluarga.
Anda punya sepatu yang masih layak untuk mereka ?
Berikan kepada mereka, karena mungkin sepatu itu yang akan menjadi satu benih kebaikan yang kelak menolong kita di Yaumil Hisab.
Sangat baik sekali ide ini. Apapun bentuk amal, baik doa dan materi pasti kelak akan membuahkan benih kebaikan. Kemana dan siapa yang akan menerima bila ada yang mau memberikan barang-barang yang mungkin bisa buat membantu saudara-saudara kita ini. Terima kasih infonya dan ditunggu info baliknya (bw)
ReplyDelete